HAPPY NEW YEAR 2008 ….. SO WHAT GITU LOH

Wah …. sudah lama saya ngga ngeblog nih … jadi merindukan nulis di blog. Sebelumnya saya ucapkan HAPPY NEW YEAR 2008 pada SEMUA PEMBACA BLOG saya … dan mohon maaf jika banyak sekali komentar yang belum saya balas … Banyak sekali pembaca blog yang meminta full artikel penelitian dalam blog ini, tapi mohon maaf jika itulah full artikel yang saya miliki … so enjoy it.

Tahun 2008 ….

Gimana kita bisa memaknai tahun 2008 ini menjadi lebih baik??

Banyak cara yang bisa dicapai untuk bisa memaknai hidup ini menjadi lebih baik … dengan bagaimana?? Klise memang …. tapi banyak dari kita yang yang menganggap hal ini sepele atau bahkan emangnya gue pikirin …. tapi ini masalah hidup kita sendiri man ….

Jangan sampai ketika kita sudah mati atau sakit kritis kita menangisi jalan hidup yang sudah  dijalani he he he basi kaleeee …..  Pernah sih baca beberapa artikel tentang gimana resolusi hidup untuk lebih baik … tapi memang mudah dibaca tapi sulit untuk dilaksanakan … menurut saya sih, kita tetap semangat untuk jalani hidup jadi lebih baik … jadi lebih berarti bagi orang disekitar kita …. bisa membuat semangat dan tersenyum orang lain …. Making live more beauty gitu deh.

Coba deh lakukan hal-hal kecil bagi orang lain …. yang bisa buat orang lain bahagia, tersenyum dan lebih semangat … woww rasanya luar biasa deh … caranya bisa macem-macem lah …. coba deh.

The Motive of Higher Education to Use Web as an Effort to Strenghthen Institutional Position and Sustainability

Presented on 7th SEAAIR (South East Asian Association for Institutional Research) Conference, 5 – 7 September 2007, Bangkok, Thailand

Author: Luciana Spica Almilia (STIE Perbanas Surabaya – Indonesia)

Abstract:

IT/ICT using hopefully can give a great benefit to such a competitive world of education. One of technology implementations in terms of business competition improvement and product selling is to use Web to provide information about university/higher education institution. The parties who are related to the university sech as lecturers, staffs, students, parents of students, alumni, the employee of alumni, and the goverment will have their roles in the using of informatics technology at university. The objectives of this study are: (1) What motives that encourage a university/higher education institution to use Web for business interest, and (2) What benefits that have already been abtained when a university/higher education institution has used Web alreday for the sake of education institution development.

The sample of this research contains 85 universities. The result shows that, the most ten mitives on universities to use web are: to access global information, to promote available facilities and infrastructure, to build the image of university, to provide information for candidate students, to help competing with large universities, to give a positive image to the institution (Higher Education), to help faster communication with the users of information at universities, to facilitate the communication of information users at universities, to be closer to the users of information at universities and to broaden the spread of students. The other finding of the research show that the most three benefit of using Web at universities are: competitive strategy, an easy access to information and the satisfaction of information users at universities (student and their parents)

Keywords: Information Technology, Information Communication Technology, Website, Motives and benefits.

Artikel Lengkap dapat di download disini ->

Pemimpin Ideal (Versiku)

Pemimpin Ideal adalah Pemimpin yang dapat berkomunikasi secara efektif dalam situasi apapun dan bijaksana. Pemimpin yang dapat BERKOMUNIKASI SECARA EFEKTIF adalah:

  1. Memberikan informasi yang update kepada seluruh bawahan dan koleganya secara terus-menerus, fakta yang terjadi di lapangan.
  2. Secara proaktif meminta umpan balik dari bawahan.
  3. Memastikan adanya tindak lanjut atas masalah yang terjadi dalam suatu organisasi.
  4. Selalu mengupdate informasi yang dimiliki berdasarkan fakta yang terjadi dilapangan.

TIPE PEMIMPIN BIJAKSANA:

  1. Memiliki rasa percaya diri dan dapat mengatakan bisa pada diri sendiri untuk dapat menyelesaikan suatu masalah.
  2. Sensitif terhadap perasaan/emosi pihak lain/anak buah.
  3. Dapat menyelesaikan masalah dengan cepat yang menjadi tanggungjawabnya dan terbiasa mendisiplinkan diri untuk mencari solusi setiap masalah dan bersikap action oriented.
  4. Berpikir kedepan dan selalu berpikir contigency plan yaitu selalu mengembangan pikiran dalam beberapa skenario untuk mengantisipasi kondisi yang akan terjadi, disini anda akan lebih terlihat powerful.
  5. Pikirkan selalu kenyamanan anggota organisasi dalam bekerja.

PEMIMPIN YANG BIJAKSANA TIDAK DISARANKAN:

  1. Menutup-nutupi permasalahan, berbohong atau mengatakan sesuatu yang sifatnya misleading. Walau sebagai pemimpin, harus menyimpan hal-hal yang bersifat cinfidential, namun hal-hal yang sifatnya terkaitn dengan keamanan, kesejahteraan harus disampaikan secara terbuka.
  2. Menjanjikan sesuatu yang belum ada kejelasannya untuk direalisasikan.
  3. Menyalahkan pihak lain atau mencari kambing hitam atas terjadinya masalah.

Wanita Lajang yang Mapan ….. Jadi Malas Menikah ……???

MASIH LAJANG di USIA MAPAN …. ini adalah topik yang hangat diperbincangkan dilingkungan kehidupan sosial di kota -kota besar (he he he mungkin termasuk saya juga kali ….), bahkan tema ini kalo nggak salah pernah juga jadi tema talk show di sebuah radio dan diseminarkan juga lho …  Jadi menarik deh topik ini …..

Benarkah wanita lajang di usia matang masa kini memang sudah DITERIMA oleh masayarakat atau keluarga? Atau kondisi nyaman sebagai lajanglah yang membuat seseorang untuk enggan menikah?

Banyak alasan mengapa para Wanita Lajang yang Mapan jadi merasa nyaman dengan kondisi ini ….. Menurut saya sih …. karena sudah berada pada comfort zone (memiliki kedudukan tertentu dan memiliki pendapatan yang memadai) alias sudah kadung (terlanjur) asyik dengan kehidupan lajang hi hi hi dan tidak percaya adanya MR. RIGHT … Eit tunggu dulu pembaca … maksudnya adalah … TIDAK PERCAYA ADANYA MR. RIGHT karena yang betul adalah BERUPAYA UNTUK MENJADI ORANG YANG TEPAT BUAT SIAPUN PASANGAN YANG DIBERIKAN TUHAN …. gitu lho maksudnya.

Kalau kita amati kondisi saat ini, sepertinya terjadinya perubahan yang cepat pada wanita dibandingkan pria di Indonesia. Wanita Indonesia makin CERDAS, BERPENDIDIKAN dan MAKIN MUDAH BERADAPTASI dengan perubahan. Dan kecenderungan saat ini wanita jauh bisa BERPIKIR RASIONAL dan TIDAK LAGI EMOSIONAL, dan yang terpenting lagi adalah MAMPU MENGONTROL DIRI.

Sementara jika kita melihat nilai-nilai yang dianut oleh pria Indonesia dalam memilih pasangan belum banyak bergeser. Pria cenderung menginginkan pasangan yang lebih banyak dirumah, kalau toh wanita diperbolehkan berkarier tentu saja masih diserahi tanggung jawab untuk mengurus rumah dan lain sebagainya. Bahkan pilihan Pria akan wanita idaman masih memiliki kriteria jaman dulu yaitu yang lemah lebut, berambut panjang, pintar masak, pintar dandan dll. Dan Pria merasa tidak nyaman dengan pasangan yang tidak bisa masak, tidak bisa dandan, memiliki pendapatan yang memadai, memiliki karir yang mapan dll (maap ya bapak2, om2 or mas2 ini khan hanya opini saya lho ….)  Tentu saja nilai-nilai ini tidak sesuai lagi dengan nilai-nilai yang dipegang oleh wanita masa kini (lajang maupun menikah). Contoh lain adalah banyaknya gugatan perceraian yang diajukan oleh wanita yang menunjukkan bahwa wanita mulai berani untuk menyelesaikan masalah keluarga TIDAK DENGAN CARA KEKELUARGAAN tetapi dengan jalur hukum yaitu melalui pengadilan untuk mencari keadilan. Hal ini juga mengindikasikan bahwa wanita masa kini cenderung berani dibandingkan dengan jaman dulu ketika dihadapkan pada suatu masalah. 

Menjadi Lajang yang HAPPY:

  • PERSIAPKAN MENTAL. Sebagai lajang sesorang harus mempersiapkan diri untuk bisa hidup mandiri dalam arti secara finansial (keuangan) atau nonfinansial (misalnya benerin genteng bocor, ngecet pagar ……. kalo ini cuma becanda aja koq hi hi hi)
  • BISA MEMBANGUN KEPERCAYAAN DIRI, pilihan ini tidak membangkitkan rasa bersalah atau membawa kerugian bagi orang lain (termasuk orang tua)
  • HARUS SIAP MENJADI PUSAT KENDALI untuk kehidupannya sendiri dan tidak tergantung pada orang lain.
  • MEMILIKI AKTIVITAS YANG MEMUNGKINKAN UNTUK MENJALIN JEJARING. Memiliki komunitas yang nyaman.
  • MEMILIKI DANA CADANGAN DAN PERSIAPAN MASA PENSIUN. Nah ini yang perlu juga dipertimbangkan, meskipun hidup melajang perlu juga lho untuk mempersiapkan dana dimasa pensiun, ini dapat dilakukan dengan investasi sederhana (tabungan dan deposito) atau investasi yang lebih berisiko (saham dan reksadana)
  • MENJAGA KESEHATAN PRIBADI. Dengan menerapkan pola hidup sehat, rajin melakukan cek kesehatan secara rutin dan teratur berolahraga dong.

An Investigation of the Relationship Between Use of International Accounting Standards and Source of Company Finance in Germany

By: Ann Tarca, Melissa Moy and Richard D. Morris

This study examines the relationship between use of international accounting standards and companies’ source of finance. We Investigate the proposition contained in Nobes’ (1998) model which postulates ousider companies (those with a higher level of public finance) in weak equity-outsider markets (capital markets where public equity finance is not dominant source of finance) are more likely to change their type of accounting system from one focused on information for creditors and tax authorities to one that meets the needs of external financiers. We considered 176 German listed companies during the financial year 1999. Our result support Nobes’ (1998) model as we found companies with more ousider finance (represented by the proportion of shares held by outsiders and the amount of public debt) were more likely to use international standards (US GAAP or IAS). Considering companies’ choice of US GAAP or IAS, we found companies selecting US GAAP rather than IAS were more likely to have a higher level of outsider finance.

Artikel lengkap dapat didownload disini -> An Investigation of The Relationship Between use of IAS

Ulasan artikel dapat didownload disini -> Ulasan Artikel

 

Financial Statment Effect of Adopting International Accounting Standars: The Case of Germany

by: Mingyi Hung and K.R. Subramanyam

This study investigates the effects of adopting International Accounting Standards (IAS) on financial statements and their value relevance for a sample of German firms during 1998 – 2002. By implementing an innovative research design we compare accounting numbers reported under German accounting rules (HGB) with those under IAS for the same set of firm-years, and document how IAS adoption changes key financial measures and the value relevance of financial statement information. While HGB is stakeholder-oriented and commonly viewed as a historical cost accounting model that emphasizes income smoothing, IAS is shareholder-oriented and generaly percieved as a fair-value accounting model that emphasizes balance sheet valuation. Consistent with these perceptions, we find that total assets and bok value of equity, as well as variablity of book value and net income, are significantly higher under IAS than HGB. In addition, we find that book value (net income) plays a greater (lesser) valuation role under IAS than under HGB. Finally, we find that while the IAS adjustments to book value are generally value relevant, the adjustments to income are generally value irrelevant. Our evidance provides new insights into the accounting differences between stakeholder-oriented and shareholder-oriented accounting systems and sheds light on the financial statement and valuation implications of adopting IAS in stakeholder-oriented economies, an issue that particularly important in the upcoming adoption of IAS by the European Community.

Artikel Lengkap dapat didownload disini -> Financial Statement Effect of Adopting IAS

Ulasan Artikel dapat didownload disini -> Ulasan Artikel Financial Statement Effect of Adopting IAS

Domestic Accounting Standards, International Accounting Standards, and the Predictability of Earnings

By. Hollis Ashbaugh dan Morton Pincus

We investigate (1) whether the variation in accounting standards across national boundaries relative to International Accounting Standards (IAS) has an impact on the ability of financial analysts to forecast non-US firms’ earnings accurately, and (2) whether analyst forecast accuracy changes after firms adopt IAS. IAS are a set of financial reporting policies that typically require increased disclosure and restrict management’s choice of measurement methods relative to the accounting standards of our sample firms’ countries of domicile. We develop indexes of differences in countries’ accounting disclosure and measurement policies relative to IAS, and document that greater differences in accounting standards relative to IAS are significantly and positively associated with the absolute value of analyst earnings forecast errors. Further, we show that analyst forecast accuracy improves after firms adopt IAS. More specifically, after controlling for changes in the market value of equity, changes in analyst following, and changes in the number of news reports, we find that the convergence in firms’ accounting policies brought about by adopting IAS is positively associated with the reduction in analyst forecast errors.

Artikel lengkap dapat didownload disini -> Domestic Accounting Standars and International Accounting Standards

Ulasan artikel dapat didownload disini -> Ulasan Artikel Domestic Accounting Standarts and IAS

International Accounting Standards and Accounting Quality

by: Mary Barth, Wayne Landsman dan Mark Lang

We compare characteristics of accounting data for firms that adopt International Accounting Standards (IAS) to a match sample of firms that do not to investigate whether reporting under IAS is associated with predictable differences in accounting quality and cost of capital. After IAS adoption, firms evidance less earnings management, more timely loss recognition, and more value relevance of accounting quality after adoption than before suggesting that IAS adoption is associated with an improvement in accounting quality. While more speculative, our result also provide weak evidance that IAS adoption firms may enjoy lower cost of capital after adoption than non-adoption firms, and a reduction in cost of capital following adoption. Overall, our result suggest an improvement in accounting quality associated with IAS adoption.

Artikel lengkap dapat didownload disini -> IAS and Accounting Quality

Ulasan artikel ini dapat didownload disini -> Ulasan Artikel IAS and Accounting Quality

Comparative Value Relevance Among German, U.S. and International Accounting Standards: A German Stock Market Perspective

By: Eli Bartov, Stephen R. Goldberg, Myung-Sun Kim

U.S. Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) and International Accounting Standards (IAS) compete for Internastional acceptance as reporting standards for capital markets around the world and in the U.S. Currently, the Securities and Exchange Commission (SEC) is considering the quality and acceptability of IAS, and has issued a Concept Release (SEC 2000), seeking advice on this issue. There is, however, only minimal market based evidance on the comparative quality of these two reporting regimes. In this research, we compare the value relevance of earnings produced under three accounting regimes, German GAAP, U.S. GAAP and IAS, by considering the association of stock returns and reported earnings as a mesure of quality of accounting standards.

Artikel Lengkap dapat didownload disini -> comparative-value-relevance.pdf

Ulasan artikel ini dapat didownload disini -> Ulasan Artikel Comparative Value Relevance

KARIER VS POSISI

Dengan maraknya tuntutan globalisasi dan kemajuan teknologi, banyak perusahaan menata ulang sistem kerja mereka misalnya melalui perampingan divisi, merger, outsourcing, marak dilakukan demi efisiensi.  Dan posisi yang tinggi dalam suatu organisasi (perusahaan) tidak menjamin anda untuk AMAN dengan adanya perubahan itu lho ….. Bila anda hanya mengandalkan jabatan tinggi yang sudah anda miliki bisa jadi anda akan digantikan oleh pihak ketiga yang mempunyai kemampuan yang lebih …..

Tahun 80-an seorang karyawan dihargai prestasinya karena loyalitasnya yaitu seberapa lama sesorang bekerja dalam perusahaan. Dan jabatan akan naik seiring dengan waktu yang dihabiskan diperusahaan. Prioritas dalam bekerja ini yang disebut sebagai job security -> Jadi, yang harus dilakukan oleh seorang karyawan adalah bekerja sebaik mungkin, sambil menunggu kenaikan jabatan yang ditawarkan oleh perusahaan, yang sifatnya vertikat dan berjenjang. Sehingga seorang karyawan harus melalui satu tahap dulu sebelum melanjutkan ketahap berikutnya.

Namun sekarang, ketentuan seperti diatas sudah tidak berlaku mutlak. Prestasi seorang karyawan tidak hanya dinilai dari berapa lama karyawan tersebut bekerja di perusahaan tetapi dilihat dari keahlian dan kemapuan karyawan tersebut. Usia sekarang bukan jadi penghalang seseorang untuk menjadi pemimpin, karena sekarang sudah banyak sekali pemimpin atau boss-boss muda dalam suatu perusahaan.

Dalam kondisi situasi bisnis yang tidak menentu, jika kita hanya mengandalkan pada jabatan bergengsi belum tentu memberikan rasa aman dalam bekerja. Karena jika terjadi suatu masalah dalam perusahaan yang mengakibatkan perusahaan gulung tikar maka kita tidak bisa berbuat apa-apa. Berbeda dengan seorang karyawan yang mempunyai kemampuan dan keahlian yang baik, maka dia tidak perlu ketakutan akan kehilangan pekerjaan meskipun perusahaan akan gulung tikar. Sehingga motif yang harus dikembangkan adalah career security.

Apa bedanya job security dan career security?? Job Security mengutamakan posisi dan jabatan, sedangkan career security mengutamakan pengembangan ketrampilan dan keahlian pribadi. Hal ini penting agar anda bisa meyakinkan diri jika anda akan tetap terus dibutuhkan oleh perusahaan.

Tahapan dalam membangun career security adalah sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi minat, kelebihan, serta motivasi kerja.
  2. Memasarkan kelebihan yang anda miliki, misalnya dengan membagi hasil pelatihan dengan rekan kerja, proaktif mengambil peran penting didalam tim kerja. Dengan begini manajemen akan memperhatikan sepak terjang anda dalam pekerjaan.
  3. Membangun jejaring, karena koneksi luas merupakan lahan untuk menjual kelebihan dan kemampuan yang anda miliki. Berbekal koneksi dan kemampuan interpersonal yang tinggi, nama anda akan selalu diingat lho ……
  4. Tidak pernah berhenti untuk belajar dan mengasah kemampuan dan ketrampilan diri  …. anda perlu mewaspadai diri anda jika dalam 2 tahun terakhir tidak ada satu pun ilmu atau keahlian baru yang anda pelajari karena anda termasuk karyawan yang enggan untuk mengembangkan diri.
  5. Membuat target-target pribadi dalam pekerjaan, he he he semacam ambisi dalam pekerjaan lah … tapi tentu saja dengan cara yang positif lho …
  6. dan yang terakhir adalah selalu menjaga kualitas kerja dalam setiap pekerjaan yang akan kita laksanakan.

Berikut tips raih career security (sumber femina no. 20):

  • Tingkatkan jejaring anda, baik didalam maupun diluar tempat anda bekerja.
  • Tingkatkan kemampuan seni berkomunikasi dan negosiasi.
  • Ambillah peran aktif dalam setiap proyek kerja yang ditangani.
  • Berpartisipasilah dalam setiap pelatihan dan seminar yang sesuai dengan minat.
  • Berusahalah memberi nilai lebih pada setiap tugas yang diberikan.
  • Usahakan memiliki keahlian di beberapa bidang sekaligus, agar ruang gerak tidak terbatas.

JADI SUDAH BUKAN JAMANNYA LAGI MERAIH JABATAN YANG TINGGI …. YANG PENTING BAGAIMANA MELANGGENGKAN KARIER SEHINGGA SELALU DICARI DAN DIBUTUHKAN …………