Akuntansi Internasional

TUJUAN MATA KULIAH:

Mata kuliah Akuntansi Internasional merupakan mata kuliah yang membahas mengenai: dimensi internasional dalam akuntansi sebagai pengguna (users), hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan akuntansi dari prespektif internasional (global) serta aturan-aturan dan standar akuntansi pada beberapa negara. Setelah menempuh mata kuliah ini mahasiswa diharapkan mempunyai pemahaman yang cukup luas tentang sifat bisnis internasional dan perdagangan global, persamaan dan perbedaan dalam sistem akuntansi yang berkaitan dengan strategi bisnis internasional serta berbagai macam praktek akuntansi dan usaha-usaha yang dilakukan untuk mencapai harmonisasi praktek akuntansi.

BUKU ACUAN:

Alhashim, D. D. dan Jeffrey S. Arpan. 1992. International Dimension of Accounting. Third Edition. PWS-KENT Publishing Company.

Evans, T. G., Martin E. Taylor dan Oscar Holzmann. 1988. International Accounting & Reporting. PWS-KENT Publishing Company.

Choi, F. Carol Ann Frost dan Gary K. Meek. 1999. International Accounting. Third edition. Prentice Hall International.

Radebaugh, L. H. dan Sidney J. Gray. 1997. International Accounting and Multinational Enterprise. Fourth edition. John Wiley and Sons, Inc.

No.

Pertemuan Ke.

Materi

Tugas Kelompok

1

I

Dimensi Internasional Akuntansi Bisnis Internasional & Strategi Multinasional

 

2

II

Perkembangan Akuntansi Internasional Perbandingan Praktek dan Sistem Akuntansi

 3

III

Harmonisasi Akuntansi Internasional

Paper Kelompok I

4

IV

Kombinasi & Konsolidasi Bisnis Internasinal

Paper Kelompok II

5

V

Akuntansi Internasional untuk Goodwill dan Aktiva Tidak Berwujud

Paper Kelompok III

6

VI

Pelaporan Segmental

Paper Kelompok IV

7

VII

Akuntansi Perubahan Harga dan Inflasi Internasional

Paper Kelompok V

8

VIII

Akuntansi untuk Transaksi Derivatif dan Mata Uang Asing

Paper Kelompok VI

9

IX

Translasi Laporan Keuangan Mata Asing

Paper Kelompok VII

10

X

Perpajakan Internasional

Paper Kelompok VIII

11

XI

Audit Eksternal Operasi Luar Negri

Paper Kelompok IX

12

XII-XIV

Dampak Perbedaan Standar Akuntansi

Paper Kelompok X – XI

 

Tugas Akuntansi Internasional

Berikut ini adalah beberapa artikel tentang tanggapan perlu tidaknya Penerapan Akuntansi Internasional di Indonesia:

Artikel Pertama (1):

Penerapan Aturan Akuntansi Internasional di Indonesia

Bandung, Kompas – Penerapan aturan akuntansi internasional di Indonesia masih perlu disesuaikan dengan kondisi perekonomian dan perusahaan.

Demikian dikatakan Agung Nugroho Soedibyo, anggota Dewan Standar Akuntansi-Ikatan Akuntan Indonesia, seusai menjadi pembicara dalam pembukaan program Pendidikan Profesi Akuntansi di Universitas Widyatama, Bandung, Rabu (13/10).

Hingga saat ini, kata dia, baru 50 persen Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) di Indonesia mengacu kepada Standar Akuntansi Internasional (IAS) yang dikeluarkan Dewan IAS.

Agung menjelaskan, penggunaan standar akuntansi internasional di Indonesia sudah berjalan sejak tahun 1973. Pada saat itu, Indonesia menggunakan aturan-aturan akuntansi yang berasal dari Belanda. Kemudian, tahun 1974 hingga tahun 1984, Indonesia menggunakan aturan Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) dari Amerika Serikat.

Tahun selanjutnya, ada perubahan pada aturan-aturan dalam GAAP, tetapi Indonesia tetap menggunakannya. Tahun 1994, Indonesia mulai menggunakan aturan akuntansi dari IAS, hingga saat ini.

Namun, aturan IAS yang diterapkan Indonesia sifatnya baru harmonisasi saja, belum mengadopsi secara penuh dan menyeluruh terhadap aturan-aturan IAS.

Aturan DSAI

Hingga saat ini, ujar Agung, Dewan Standar Akuntansi Indonesia (DSAI) telah menelurkan 58 PSAK.

Aturan standar yang baru saja ditelurkan oleh DSAI, antara lain PSAK 59 tentang akuntansi di perbankan syariah dan PSAK 24 tentang keuntungan bagi pekerja.

Menurut Agung, hingga saat ini di Indonesia belum dimungkinkan untuk melakukan adopsi secara penuh terhadap aturan standar internasional.

Agung memberi contoh tentang PSAK 24 tentang keuntungan bagi pekerja. Ia menjelaskan, aturan yang baru saja ditetapkan tersebut mengadopsi aturan IAS nomor 19.

Hal itu dilaksanakan bersamaan dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. “Semua hak-hak pekerja harus ditulis dalam laporan keuangan sebuah perusahaan. Agar semua pihak bisa mengetahuinya,” tuturnya.

Namun, lanjut Agung, DSAI juga tidak akan begitu saja menerapkan aturan IAS di Indonesia. Ketika ditanya mengenai pemeriksaan terhadap para akuntan publik yang tergolong nakal, Agung mengatakan, dirinya tidak bisa mengatakan ada akuntan nakal sebelum terbukti.

Ia menyangkal adanya akuntan yang nakal. Namun, Agung mengakui jika ada laporan dari masyarakat tentang profesi akuntan. Tapi, katanya, tidak ada yang berhubungan dengan kenakalan akuntan. “Bahkan, hingga saat ini tidak ada izin praktik akuntan yang dicabut oleh Departemen Keuangan,” tutur Agung. (J11)

Artikel Kedua (2):

Indonesia Harus Adopsi IAS
Memudahkan Perusahaan Asing Menjual Saham

BANDUNG, (PR).-
Indonesia harus mengadopsi standar akuntansi internasional (International Accounting Standard/IAS) untuk memudahkan perusahaan asing yang akan menjual saham di negara ini atau sebaliknya. Namun demikian, untuk mengadopsi standar internasional itu bukan perkara mudah karena memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal.

Demikian dikatakan penasihat Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) Kompartemen Akuntan Publik, Agung Nugroho Soedibyo, usai memberikan ceramah umum di pembukaan program Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) Universitas Widyatama, baru-baru ini.

Lebih lanjut Agung mengatakan, upaya untuk mengadopsi seluruh standar akuntansi internasional itu sudah dilakukan sejak 1994. Saat ini, jelasnya, sudah lebih dari 50% framework standar internasional yang dikeluarkan oleh International Accounting Standard Board.

“Cuma sifatnya kita baru harmonisasi. Ke depan nanti, walaupun saya tidak tahu kapan waktunya, kita harus melakukan full adoption atas standar internasional itu. Sebetulnya, yang paling utama diinginkan adalah untuk perusahaan publik. Agar jika ada perusahaan dari luar negeri ingin menjual saham di Indonesia atau sebaliknya, tidak akan lagi dipersoalkan perbedaan standar akuntansi yang dipergunakan dalam menyusun laporan keuangan,” paparnya.

Untuk mencapai full adoption dari standar akuntansi internasional, hingga saat ini masih terus dilakukan diskusi dan pembicaraan. Menurut Agung, ada beberapa pilihan untuk melakukan adopsi, menggunakan IAS apa adanya, atau memilih bagian-bagian yang sesuai dengan kondisi Indonesia.

“Selama ini, yang kita sebut sebagai harmonisasi adalah, kita yang menentukan mana saja yang harus diadopsi, sesuai dengan kebutuhan. Contohnya adalah PSAK (pernyataan standar akuntansi keuangan) nomor 24, yang baru saja selesai kita kerjakan, itu mengadopsi sepenuhnya IAS nomor 19. Standar ini berhubungan dengan imbalan kerja atau employee benefit. Kita melakukan hal ini, bersamaan dengan adanya UU No 13 tentang tenaga keja, yang mengatur secara rinci mengenai hak karyawan. Hak-hak seperti itu harus secara transparan diwujudkan di dalam laporan keuangan perusahaan,” ujarnya.

Agung melanjutkan, ada juga upaya untuk mengadopsi IAS nomor 41 tentang standar akuntansi perusahaan agrokultur. Tapi, Dewan Standar Akuntansi tidak bisa begitu saja melakukan adopsi. Pihaknya saat ini masih terus melakukan pembicaraan dengan perusahaan agrokultur baik swasta maupun BUMN, untuk meninjau kemungkinan mengadopsi penuh IAS Nomor 41. “Diskusinya bahkan belum sampai kepada diskusi penyusunan, jadi waktunya masih lama,” ujarnya.

Berkaitan dengan sosialisasi standar baru hingga ke wilayah akademis, Agung menjelaskan, sudah ada bagian di IAI yang bertugas melakukan hal tersebut yaitu Kompartemen Akuntan Pendidik.

“Dewan Standar Akuntasi tugasnya hanya menyusun suatu standar secara independen dan tidak bertugas untuk menyosialisasikan. Di IAI ada empat kompartemen yang menjadi tempat bernaungnya akuntan sesuai dengan bidangnya, Kompartemen Akuntan Publik, Akuntan Manajemen, Sektor Publik, dan Akuntan Pendidik,” urainya.

“Tiap-tiap kompartemen inilah yang seharusnya melakukan sosialisasi. Para akuntan pendidik ini pasti dosen-dosen perguruan tinggi. Kalau dia melakukan pekerjaan formalnya, otomtis setiap perguruan tinggi akan mengetahui setiap perkembangan yang ada sedini mungkin,” tambahnya.

Namun demikian, lanjut Agung, sosialisasi pasti akan terbentur dengan masalah biaya, misalnya untuk pencetakan buku standar yang baru. “Tapi sosialisasi ini sangat penting karena nanti produk dari perguruan tinggi itu akan dinilai oleh para pemakainya,” ujarnya. (A-132)***

Tugas Kelompok:

  1. Berikan pendapat saudara tentang perlukah negara Indonesia mengadopsi standar akuntansi internasional?
  2. Apa keuntungan negara Indonesia jika mengadopsi IAS?
  3. Dan bagaimana cara yang harus dilakukan oleh badan pembuat standar Akuntansi Indonesia jika ingin mengadopsi standar akuntansi internasional?

Komentar saudara diharapkan dikirimkan melalui alamat e-mail: lucy@perbanas.edu

Database Management Systems

TUJUAN MATA KULIAH:

Mata kuliah manajemen database merupakan mata kuliah yang membahas mengenai: pentingnya database dan aplikasi hubungan antar database, desain database, queries, pengembangan aplikasi database, administrasi database, dan manajemen transaksi. Setelah menempuh mata kuliah ini mahasiswa diharapkan mempunyai pemahaman yang cukup luas tentang database dan aplikasi database, dan pada akhirnya diharapkan mempunyai pemahaman yang memadai untuk menciptakan suatu bentuk database yang sederhana

BUKU ACUAN:

Post, Gerald V. Database Management Systems Designing & Building Business Aplication. Second Edition. Mc Graw-Hill (PO).

Ramakrishnan, R. dan Johanes Gehrke. Database Management Systems. Second Edition. Mc Graw-Hill (RA).

MATERI PERKULIAHAN:

Pertemuan Ke.

Materi Kuliah

Bahan Bacaan

I

PENGANTAR SISTEM DATABASE KOMPONEN DATABASE PO Chapter 1

II

DISAIN DATABASE PO Chapter 2-3

III

QUERIES PO Chapter 4

IV

PENGEMBANGAN APLIKASI DATABASE PO Chapter 6,7 dan 8

V

DISAIN APLIKASI BISNIS SEDERHANA Handout

VI

DISAIN APLIKASI BISNIS SEDERHANA Handout

VII

DISAIN APLIKASI BISNIS SEDERHANA Handout

VIII

DISAIN APLIKASI BISNIS SEDERHANA Handout

Ujian Tengah Semester

IX

DESIGN FISIK PO Chapter 9

X

ADMINISTRASI DATABASE PO Chapter 10

XI

DISTRIBUSI DAN INTEGRASI DATA PO Chapter 11

XII

DISAIN APLIKASI BISNIS SEDERHANA Handout

XIII

DISAIN APLIKASI BISNIS SEDERHANA Handout

XIV

DISAIN APLIKASI BISNIS SEDERHANA Handout

Ujian Akhir Semester

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Sistem Informasi Akuntansi pada Bank Umum Pemerintah di Wilayah Surabaya dan Sidoarjo

Penelitian ini telah Dipresentasikan pada Seminar Nasional Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (SNIKTI) 2007 di Universitas Indonesia – Jakarta (29 – 30 Januari 2007)

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat meningkatkan kinerja Sistem Informasi Akuntansi (SIA) yang digunakan dalam perusahaan jasa khususnya perbankan. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan pada penelitian ini diperoleh bukti bahwa dari delapan (8) faktor yang mempengaruhi kinerja SIA, yaitu keterlibatan pemakai dalam pengembangan sistem, kemampuan teknik personal Sistem Informasi (SI), ukuran organisasi, dukungan manajemen puncak, formalisasi pengembangan SI, program pelatihan dan pendidikan pemakai, keberadaan dewan pengarah SI dan lokasi dari departement SI, hanya faktor dukungan manajemen puncak yang mempunyai hubungan signifikan terhadap kinerja SIA terutama pada atribut kepuasan pemakai.

Ringkasan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Pertama, pengujian yang dilakukan pada faktor keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan sistem menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan sistem dengan kinerja SIA baik itu dari atribut kepuasan pemakai dan pemakaian sistem. Pengujian yang dilakukan pada faktor kemampuan teknik personal menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan teknik personal dengan kinerja SIA baik itu dari atribut kepuasan pemakai dan pemakaian sistem.

Kedua, pengujian yang dilakukan pada faktor ukuran organisasi menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara ukuran organisasi dengan kinerja SIA baik itu dari atribut kepuasan pemakai dan pemakaian sistem. Ketiga, pengujian yang dilakukan pada faktor dukungan manajemen puncak menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan manajemen puncak dengan kinerja SIA untuk atribut kepuasan pemakai. Tetapi dukungan manajemen puncak menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan kinerja SIA untuk atribut pemakaian system.

Keempat, pengujian yang dilakukan pada faktor formalisasi pengembangan Sistem Informasi menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara formalisasi pengembangan Sistem Informasi dengan kinerja SIA baik itu untuk atribut kepuasan pemakai dan pemakaian sistem. Kelima, pengujian yang dilakukan pada faktor ada/tidaknya program pelatihan dan pendidikan pemakai menunjukkan bahwa data program pelatihan dan pendidikan pemakai tidak dapat diolah. Hal ini disebabkan jawaban pada pertanyaan ada tidaknya program pelatihan dan pendidikan Pemakai. Data ini menunjukkan bahwa keseluruhan responden menjawab bahwa terdapat program pelatihan di setiap perusahaan tempat responden bekerja. Keenam, pengujian yang dilakukan pada faktor ada/tidaknya dewan pengarah Sistem Informasi menunjukkan bahwa data dewan pengarah Sistem Infromasi tidak dapat diolah. Hal ini disebabkan jawaban pada pertanyaan ada tidaknya dewan pengarah Sistem Informasi. Data ini menunjukkan bahwa keseluruhan responden menjawab bahwa terdapat dewan pengarah Sistem Informasi di setiap perusahaan tempat responden bekerja. Ketujuh, pengujian yang dilakukan dengan membandingkan kinerja sistem informasi akuntansi atas lokasi departement sistem informasi yang berdiri sendiri dibandingkan dengan yang digabung dengan departement lain menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kinerja yang signifikan baik untuk variabel kepuasan pemakai dan pemakaian sistem antara lokasi departement sistem informasi yang berdiri sendiri dengan lokasi departement sistem informasi yang di gabung dengan departement lain.

Atas permintaan Echal di Aceh, bagi pembaca blog ini yang membutuhkan full text artikel ini dapat download disini -> artikel-penelitian-kinerja-sistem-informasi.pdf

Atas permintaan Rini Ulthavia (FE Unsyiah), maka saya sertakan juga kuesioner dari penelitian ini, dan dapat didownload disini -> kuesioner-penelitian-kinerja-sia-bank.pdf

Alamat Korespondensi:

Luciana Spica Almilia, S.E., M. Si.

STIE PERBANAS Surabaya

Jln. Nginden Semolo No. 34-36

Surabaya

Telp. (031) 5947151-5947152

e-mail: almilia_spica@yahoo.com dan lucy@perbanas.edu

Market Reaction and Intra Industry Effect of Financial Distress Announcement

Penelitian ini telah Dipresentasikan  pada Seminar  Nasional Ekono-Insentif  di Kopertis Wilayah IV  Bandung dan telah Dipublikasikan pada Jurnal Ekono-Insentif Vol. 1 No. 1, April 2006

 

Abstract:

The objective of this research is to empirically examine about the market reaction, intra industry effect of stock split announcement, and to examine effect of leverage non reporter firms and herfindhal index to abnormal return. The sample of this research is 32 reporter firm and 98 non reporter firms (consist of 71 small firms and 28 large firms) during the period of 1994 – 2003. The result of this research show that financial distress has information content which is negatively responded and statistically significant responded by the market around the date of financial distress announcement. The intra industry effect of financial distress firms announcement by large size firms and small size firms is contagion effect. But this research can not prove that leverage and herfindhal index is variables that determine competitive and contagion effect.

 

Keywords: financial distress, intra industry effect, contagion effect, competitive effect

 

Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk: menguji reaksi pasar dan efek intra industri perusahaan terhadap pengumuman financial distress suatu perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Penelitian ini juga menguji apakah dengan semakin tingginya tingkat leverage perusahaan non reporter maka semakin rendah abnormal return (semakin besar efek contagion) dan apakah semakin tingginya derajat konsentrasi perusahaan non reporter maka semakin tinggi abnormal return (semakin besar efek competitive). Perusahaan yang dijadikan sample adalah perusahaan yang delisted dan non delisted periode 1994 – 2003. Perusahaan yang mengalami financial distress adalah perusahaan yang mengalami delisted di bursa saham. Dengan menggunakan 32 perusahaan yang mengumumkan financial distress, penelitian ini memberikan bukti bahwa pengumuman financial distress direkasi oleh pasar. Penelitian ini juga menguji terhadap 98 perusahaan non reporter (terdiri dari 71 perusahaan kecil dan 28 perusahaan besar) untuk menguji efek intra industri perusahaan, hasil penelitian ini juga memberikan bukti adanya efek intra industri. Penelitian ini juga menguji efek intra industri perusahaan non reporter size besar dan kecil, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat efek intra industri perusahaan non reporter baik size besar maupun size kecil. Tetapi penelitian ini tidak dapat memberikan bukti bahwa leverage perusahaan dan indeks heferindal merupakan faktor yang mempengaruhi abnormal return perusahaan non reporter artinya bahwa leverage perusahaan non reporter tidak memperkuat efek contagion dan indeks heferindal tidak memperkuat efek competitive perusahaan non reporter. 

Kata Kunci – financial distress, efek intra industri, efek kontagion, efek kompetitif

Artikel Lengkap Dapat didownload disini -> reaksi-pasar-efek-intra-industri-financial-distress.pdf

 

Pengaruh Konservatisma, Pertumbuhan, Beta, Struktur Modal dan Ukuran Perusahaan terhadap ERC Perusahaan Manufaktur Go Publik

Oleh: Luciana Spica Almilia & Yuliati (STIE Perbanas Surabaya) 

Penelitian ini telah Dipresentasikan pada Seminar Nasional Good  Corporate Governance di Universitas Trisakti – Jakarta  (24 – 25 November 2006)

This research aims at providing empirical evidance on factors include of conservatism, growth, beta, capital structure dan size that affect earnings response coefficient (ERC). Using a sample of 39 firms from Jakarta Stock Exchange (JSX) that release annual financial statement of 2002, 2003 and 2004. Multiple linier regression is used to test the hypothesis. It is hypothised that conservatism, growth, beta, capital structure dan size affect earnings response coefficient (ERC).

The result show that only three variables include conservatism, growth dan size that affect earnings response coefficient (ERC). The other findings of this research that conservatism firms had a higher earnings response coefficient (ERC).

 

Keywords: conservatism, growth, beta, capital structure, size, earnings response coefficient (ERC)

Information Content and Intra Industry Effect of Stock Split Announcement by Growth Firms and Non-Growth Firms

Penelitian ini telah dipublikasikan pada Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol. 20 No. 1, Januari 2005.

Abstract: 

The objective of this research is to empirically examine about the information content and intra industry effect of stock split announcement. The analysis include three aspects: information content, risk (beta) and intra industry effect of stock split announcement by growth firm and not growth firm.The sample of this research is 79 reporter firm (consist of 59 growth firm and 20 not growth firm) and 166 non reporter firms during the period of 1997 – 2002. The result of this research show that stock split has information content which is negatively respondend and statistically significant responded by the market around the date of stock split announcement. The difference between beta growth firms and not growth firms after stock split announcement is significant. The intra industry effect of stock split announcement is competitive effect.

Keywords: stock split, intra industry effect, competitive effect, information content

Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah menguji secara empiris tentang kandungan informasi dan efek intra industri pengumuman stock split. Aanalisis yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi 3 aspek yaitu: kandungan informasi, risiko (beta) dan efek intra industri pengumuman stock split yang dilakukan oleh perusahaan bertumbuh dan perusahaan tidak bertumbuh. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 79 perusahaan yang mengumumkan stock split (yang terdiri dari 59 perusahaan bertumbuh dan 20 perusahaan tidak bertumbuh) dan 166 perusahaan yang tidak mengumumkan stock split (non reporter) selama periode observasi 1997 – 2002. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengumuman stock split direaksi negatif dan signifikan diseputar tanggal pengumuman stock split oleh pasar. Temuan lain dalam penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan beta antara perusahaan bertumbuh dan perusahaan tidak bertumbuh. Efek intra industri dari pengumuman stock split adalah efek kompetitif.

Kata Kunci: stock split, efek intra industri, efek kompetitif, kandungan informasi Artikel lengkap dapat didownload disini -> artikel-stock-split-growt-firms-and-non-growth-firms.pdf